Materi Seminar Collateral April 23, 2012

ASET KEKAYAAN INTELEKTUAL SEBAGAI AGUNAN KREDIT BANK

Bambang Djauhari SH, LL.M.
Deputi Direktur Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan

  1. Asas Pemberian Kredit
  2. 4’C Pemberian Kredit
  3. Penilaian Kualitas Aktiva Bank
  4. Penilaian Kualitas “Kredit” Bank
  5. Agunan sebagai Pengurang Penyisihan Penghapusan Aktiva (PPA)
  6. Modal dan Resiko Kredit
  7. Prinsip Kehati-hatian dalam Aktivitas Sekuritisasi Aset
  8. Sekuritisasi Aset Kekayaan Intelektual

Asas Pemberian Kredit  (1)

  • Kredit yang diberikan oleh bank mengandung resiko sehingga bank dalam  melaksanakan pemberian kredit harus memperhatikan asas-asas perkreditan yang sehat. 
  • Bank harus mempunyai keyakinan atas kemampuan dan  kesanggupan  Nasabah Debitur untuk  memenuhi kewajibannya  sesuai dengan yang diperjanjikan untuk melunasi utangnya.  
  • Untuk memperperoleh keyakinan tersebut, sebelum memberikan.kredit, bank harus melakukan penilaian yang seksama/mendalam terhadap watak, kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha dari Nasabah Debitur.
  • (UU No.7/1992)

Asas Pemberian Kredit  (2)

  • Karena  agunan sebagai salah satu unsur dalam penilaian pemberian kredit, maka apabila berdasarkan unsur-unsur lain telah dapat diperoleh keyakinan atas kemampuan Nasabah Debitur untuk melunasi utangnya, agunan dapat hanya berupa barang proyek  atau hak tagih yang dibiayai dengan kredit yang bersangkutan
  • Bank tidak wajib meminta agunan berupa barang yang tidak berkaitan langsung dengan obyek yang dibiayai, yang lazim dikenal dengan agunan tambahan.

4 C’s Pemberian Kredit  (1)

gambar bagan

4 C’s Pemberian Kredit  (2)

1

4 C’s Pemberian Kredit  (3)

2

4 C’s Pemberian Kredit  (4)

3

4 C’s Pemberian Kredit (5)

4

Penilaian Kualitas Aktiva Bank

  • Penyediaan dana   oleh bank wajib dilaksanakan berdasarkan prinsip kehati-hatian. Oki bank wajib menilai, memantau dan mengambil langkah-langkah yg diperlukan agar “Kualitas Aktiva “senantiasa baik.
  • Kelangsungan usaha bank tergantung dari kemampuan dan efektifitas bank dalam mengelola risiko kredit dan meminimalkan risiko kerugian. Oki bank wajib menjaga “Kualitas Aktiva” dan wajib membentuk penyisihan penghapusan aktiva

          5

Penilaian Kualitas  “Kredit” Bank (2)

  • Bagian dari Aktiva Produktif (dhi kredit) yang dijamin dengan agunan tunai ditetapkan memiliki kualitas “Lancar”
  • Agunan tunai adalah agunan berupa :

       a. giro, deposito, tabungan, setoran jaminan dan atau emas;
       b. SBI dan atau SUN;
       c. jaminan pemerintah RI
       d. Standby Letter of Credit dari prime bank

Agunan sebagai Pengurang PPA (1)

  • Bank wajib membentuk Penyisihan Penghapusan Aktiva (PPA) terhadap Aktiva Produktif  (cadangan umum dan khusus) dan Aktiva Non Produktif (cadangan khusus);

 

  • Pembentukan “cadangan umum” dikecualikan untuk AP dalam bentuk  SBI dan SUN serta AP (dhi kredit) yg dijamin “agunan tunai”
  • Agunan yang dapat diperhitungkan sebagai “pengurang” dalam pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva (PPA):
  • Surat berharga dan saham yang aktif diperdagangkan di bursa efek di Indonesia atau memiliki peringkat investasi dan diikat secara gadai;
  • Tanah, rumah tinggal dan  gedung yang diikat dengan hak tanggungan
  • Pesawat udara dan kapal laut dengan ukuran diatas 20 meter kubik yang diikat dengan hipotik
  • Kendaraan bermotor dan persediaan yang diikat secara fiducia

Agunan sebagai Pengurang PPA (2)

Agunan tsb wajib :
a. Dilengkapi dokumen hukum yang sah
b. Diikat sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga memberikan hak preferensi bagi bank
c. Dilindungi asuransi dengan banker ‘s clause klausula yang memberikan hak kepada bank untuk menerima uang pertanggungan dalam hal terjadi pembayaran kalim). Perusahaan asuransi bukan pihak terkait dengan bank atau kelompok peminjam dengan debitur bank

Agunan sebagai Pengurang PPA (3)

Nilai  agunan yang dapat diperhitungkan sebagai pengurang dalam pembentukan PPA :

  • Surat berharga dan saham yang aktif diperdagangkan di bursa efek di Indonesia atau memiliki peringkat investasi  paling tinggi sebesar 50% dari nilai yg tercatat di bursa efek pada akhir bulan
  • Tanah, rumah tinggal dan  gedung, pesawat udara, kapal laut , kendaraan bermotor dan persediaan paling tinggi sebesar :
  •  70% dari penilaian apabila penilaian 12 bulan terakhir
  • 50%  dari penilaian apabila penilaian 12-18 bulan terakhir
  • 30%  dari penilaian apabila penilaian  18 -24 bulan terakhir
  • 0%    dari penilaian apabila penilaian lebih 24 bulan

Modal dan Resiko Kredit (1).

  • Sejalan dengan  standar internasional yang berlaku , perhitungan kecukupan modal yang berfungsi sebagai penyangga untuk menyerap kerugian yang timbul dari berbagai resiko,  kebutuhan modal bank dikaitkan dengan profil resiko (dhi resiko kredit)
  • Bank wajib menyediakan modal minimum sebesar 8% dari aset tertimbang menurut resiko (ATMR)
  • ATMR terdiri dr ATMR untuk resiko kredit, resiko operasional dan resiko

Modal dan Resiko Kredit  (2)

  1. Teknik Mitigasi Resiko Kredit (MRK) yang diakui dalam perhitungan ATMR Risiko Kredit:
  2. Teknik MRK – Agunan
  3. Teknik MRK – Garansi

Teknik MRK – Penjaminan atau Asuransi Kredit

  1. Teknik MRK wajb memenuhi kriteria:Seluruh dokumen agunan, garansi, jaminan atau asuransi kredit memenuhi persyaratan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku
  2. Bank secara berkala melakukan review untuk memastikan keberlanjutan pemenuhan kriteria dalam angka 1;
  3. Dokumentasi Teknik MRK memuat klausula yang menetapkan jangka waktu yang wajar untuk eksekusi dan pencairan agunan, garansi, jaminan atau asuransi kredit dalam hal terjadi event of default dari debitur.

Modal dan Resiko Kredit  (3) 

Jenis Agunan yang diakui (Eligible Financial Collateral) dalam teknik MRK:

  1. Uang tunai yang disimpan di bank penyedia dana;
  2. Giro, tabungan, deposito yang diterbitkan oleh Bank penyedia dana;
  3. Emas yang disimpan oleh Bank penyedia dana;
  4. Surat Utang Negara (SUN);
  5. Surat Berharga Syariah Negara (SBSN);
  6. Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS);
  7. Surat Berharga dengan peringkat paling kurang:
  • Setara dengan BBB- jika diterbitkan oleh Pemerintah Negara Lain, Entitas Sektor Publik, Bank Pembangunan Multilateral, atau Bank;
  • Setara dengan A- jika diterbitkan oleh Korporasi;
  • Setara dengan A-2 untuk peringkat jangka pendek;

Prinsip Kehati-hatian dalam Aktivitas Sekuritisasi Aset  (1)

  • Sekuritisasi aset adalah penerbitan surat berharga oleh Penerbit “Efek Beragunan Aset”(asset-backed securities) yang didasarkan pada pengalihan aset keuangan dari Kreditur Asal yang diikuti dengan pembayaran yang berasal dari hasil penjualan efek.
  • Penerbit Efek Beragunan Aset (Penerbit) adalah badan hukum, Kontrak Investasi Kolektif Efek Baragunan Ast (KIK-EBA) atau bentuk lain sesuai ketentuan yang berlaku, yang mempunyai tujuan khusus melakukan Sekuritisasi Aset
  • Kreditur Asal (Originator) adalah pihak yang mengalihkan aset keuangan kepada Penerbit
  • Efek Beragun Aset (EBA) adalah surat berharga yang diterbitkan oleh Penerbit berdasarkan aset keuangan yang dialihkan oleh Kreditur Asal (Originator)

Prinsip Kehati-hatian dalam Aktivitas Sekuritisasi Aset  (2)

  • Aset  keuangan yang dialihkan dalam Sekuritisasi Aset wajib berupa aset keuangan yang terdiri dari kredit, tagihan yang timbul dari surat berharga, tagihan yang timbul di kemudian hari (future receivables)  dan aset keuangan lain yang setara
  • Aset keuangan yang dialihkan wajib memenuhi kriteria :

     1)  memiliki arus kas (cashflow)
     2)  dimiliki dan dalam pengendalian Kreditur Asal
     3)  dapat dipindahtangankan dengan bebas kepada penerbit

  • Dalam Sekuritisasi Aset, Bank dapat berfungsi sebagai :

     1)  Kreditur Asal;                           5) Bank Kustodian
     2)  Penyedia Kredit Pendukung;      6)  Pemodal
     3)  Penyedia Fasilitas Likuiditas;  
     4)  Penyedia jasa

Sekuritisasi Aset Kekayaan Intelektual

  • Sekuritisasi Aset Kekayaan Intelektual lambatberkembang karena beberapa faktor, termasuk resiko piracy, litigasi, perubahan perundang-undangan, keusangan secara teknologi
  • Dibutuhkan keahlian teknis dibanding sekuritisasi aset tradisional/ konvensional, membutuhkan due diligence lebih mendalam
  • Sekuritisasi Aset Kekayaan Intelektual berbeda dengan sekuritisasi aset lainnya seperti kredit/loan atau kartu kredit, yg pembayarannya  didasarkan pada fixed amount sedangkan Sekuritisasi Aset Kekayaan Intelektual berfluktuasi   
  •  Cash flow yang sulit diprediksi
  • Sengketa dalam bidang Kekayaan Intelektual mempengaruhi kepercayaan

Terima Kasih

 

This entry was posted in . Bookmark the permalink.

No comments yet.

Be the first to comment by using the form below.

Add comment