Sengketa Hak Cipta Tertua dan Paling Mematikan: Cúl Dreimhne

Apabila Partners mendengar istilah “sengketa hak cipta”, mungkin yang otomatis terpikir adalah kasus-kasus modern. Namun, seperti yang sudah kita bahas pada artikel sejarah merek, konsep Hak Cipta sudah ada jauh sejak perundangan-undangan pertamanya dirancang. Kisah berikut mungkin adalah sengketa Kekayaan Intelektual tertua di dunia dan pastinya, ini adalah sengketa Hak Cipta yang paling mematikan, dengan 3000 nyawa melayang akibatnya. Apa penyebabnya?

Kisah ini melibatkan dua Santo Monastik Irlandia pada abad ke-6. Mereka adalah Santo Finnian, dan murid kebanggaanya Santo Columba, yang juga merupakan salah satu dari 12 Rasul Irlandia. Finnian memiliki sebuah manuskrip atau teks salinan terjemahan Alkitab pertama ke bahasa latin (Vulgata Latin) dari bahasa Ibrani, dikerjakan 200 tahun sebelumnya oleh Santo Jerome. Tentu ini bukan teks biasa. Keistimewaan teks tersebut berhasil menarik massa untuk meramaikan Clonard, sebuah biara yang didirikan oleh Finnian.  

Two Monks Started First Recorded Copyright Battle, Resulting in Thousands of Deaths
Clonard, biara yang didirikan oleh Santo Finnian.

Bibit dari sengketa dimulai dengan ketika Finnian berniat untuk menerjemahkan kembali teks tersebut dari bahasa Latin ke bahasa Gaelik, agar dapat disebarkan dan dicerna oleh seluruh biara-biara Irlandia. Columba, tanpa sepengetahuan gurunya, telah mulai mengerjakan terjemahannya sendiri secara diam-diam. Upaya Ini akhirnya diketahui oleh Finnian, dan tentunya sang guru sangat geram dengan apa yang dia temukan. Finnian mendesak muridnya untuk segera menghentikan proses penerjemahan dan menyerahkan teks tersebut kepadanya, namun permintaan itu tidak dituruti.

CathachOfStColumba.jpg
Teks oleh Columba kini dikenal sebagai “the Cathach of St. Colomba”.  Cathach berasal dari kata Gaelik Irlandia  yang berarti ‘pejuang’.

Setelah gagal menemukan kesepakatan, sengketa dibawa ke pengadilan yang dipimpin oleh raja tertinggi Irlandia, Diarmait mac Cerbaill. Saat dilaksanakannya pengadilan, Finnian menggunakan argumen yang cukup sederhana, yakni bahwasanya teks aslinya adalah miliknya, maka demikian juga salinannya, diperkuat dengan fakta bahwa salinan tersebut dibuat di biaranya. Namun Columba membantah dengan memberi tanggapan yang serupa dengan banyak kritik di masa kini mengenai pembajakan buku digital.

Columba mengatakan bahwa sebuah buku tidak akan berkurang nilainya akibat penyalinan dan sebuah buku sebaiknya disebarkan dan digandakan sebanyak mungkin tanpa batasan apapun. Ia merasa bahwa membatasi pengetahuan adalah kejahatan yang jauh lebih besar daripada menyalin buku. Menimbang itu semua, sang Raja memberi keputusan yang mungkin adalah salah satu pengaturan tertua terkait hak cipta. Keputusan historis tersebut berbunyi demikian:

“Setiap anak sapi adalah milik induknya, begitu juga dengan tiap salinan buku terhadap buku aslinya.”

Inti dari keputusan raja cukup jelas: Finnian adalah pemilik teks asli, dan oleh karena itu, salinan atas teks tersebut juga miliknya. Keputusan ini memicu amuk dari Columba. Hubungan Columba dengan raja, bahkan sebelum adanya sengketa tersebut, sudah tegang. Tidak lama sebelum keputusan ini dikeluarkan, sang raja telah menjatuhkan hukuman mati terhadap kerabat Columba yang tidak sengaja membunuh lawannya dalam sebuah pentas olahraga. Tentunya, keputusan raja yang tidak menguntungkan baginya semakin menyulutkan api kebenciannya terhadap raja, dan inilah awal  pertempuran. 

Columba, bersama dengan klan O’Neill, menghasut pemberontakan skala besar melawan raja. Puncak dari pertempuran terjadi ketika kedua belah pihak bertemu pada sekitar pertengahan abad keenam (diperkirakan antara 555–561 M), di peristiwa yang umum disebut sebagai “Pertempuran Cúl Dreimhne” atau yang juga kadang dikenal sebagai “Pertempuran Buku”.

Walaupun detail persis dari pertempuran ini masih diperdebatkan oleh sejarawan, namun konsensus umum menyatakan bahwa pertempuran terjadi di Cairbre Drom Cliabh dan menewaskan 3.000 orang.  Setelah pertempuran usai, Columba didesak oleh pimpinan gereja untuk menebus dosanya atas kematian yang ia sebabkan. Columba akhirnya diasingkan dari Irlandia dan menetap di Pulau Iona, Scotlandia, dimana dia menghabiskan hayatnya dengan misi untuk menyebarkan agama kepada 3000 orang, angka yang sama dengan jumlah nyawa yang tewas di pertempuran. Kini Iona menjadi tempat suci yang juga merupakan lokasi pemakaman untuk banyak raja-raja Skotlandia, termasuk Macbeth.

Cathah kini adalah salah satu manuskrip tertua yang berasal di Irlandia, dan pemazmur Latin tertua kedua di dunia. Teks tersebut dijaga oleh klan O’Donnel, dan konon, pernah ada tradisi yang dilakukan sebelum pertempuran, dimana seorang biarawan yang terpilih akan memakai Cathach di lehernya dan kemudian berjalan mengelilingi pasukan sebanyak tiga kali. Cathach dijaga secara turun termurun oleh klan O’Donnel. Ini berjalan sampai ratusan tahun sebelum akhirnya ipercayakan ke Royal Irish Academy pada tahun 1842. Berbagai restorasi dilakukan pada teks tersebut. Pertama oleh British Museum pada tahun 1920, dan dilanjutkan lagi pada tahun 1980-81.

Two Monks Started First Recorded Copyright Battle, Resulting in Thousands of Deaths

Santo Columba dan biara yang ia dirikan di Iona.

Jangan lewatkan berbagai fakta unik lainnya terkait Hak Ciptan dan Kekayaan Intelektual lainnya melalui website dan media sosial kami. Jika Partners membutuhkan informasi lebih lanjut, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email marketing@ambadar.co.id.


Sumber:

No comments yet.

Be the first to comment by using the form below.

Add comment