Adu Skill Kekayaan Intelektual, Produsen Casing Tantang SONY PS5

Bulan Februari lalu, perusahaan aksesoris game Dbrand mulai memasarkan produk faceplate atau semacam casing pelindung, untuk console PlayStation. Seakan sudah siap kalau produknya yang disebut “Darkplate” ini akan menarik perhatian dari produsen PS5 yakni Sony, Dbrand juga sudah menyiapkan tanggapannya. Bahkan mereka seakan menantang Sony dengan menulis headline “silakan gugat kami” di website mereka.  

Kepercayaan diri Dbrand tampaknya sedang tinggi. Di website tersebut, Dbrand juga menyatakan dengan nada jenaka, bahwa mereka mungkin akan masuk penjara dengan keamanan maksimum, tapi setidaknya mereka dapat memberi desain PS5 yang unik kepada konsumen, dan bahwa “tim pakar kemasan” mereka sangat luar biasa sehingga akan dikirim ke Mars. Dan Sony pun akhirnya benar melancarkan gugatan!

Dalam somasi yang mereka kirimkan kepada Dbrand, Sony menguraikan bagaimana bentuk faceplate yang diproduksi Dbrand sangat menyerupai bentuk faceplate PS5 yang orisinil. Juga bahwa bentuk faceplate tersebut di mata konsumen sudah lekat dengan produk Sony, sehingga tindakan Dbrand jelas merupakan suatu bentuk pelanggaran kekayaan intelektual. Tentunya Sony memiliki landasan atas klaim mereka. Bentuk sebuah perangkat PS5 dilindungi di AS atas dasar “design patent”  atau paten dan dalam ruang lingkup desain industri untuk level internasional. Namun untuk mendapat perlindungan penuh, jelas suatu permohonan paten harus diterima dan didaftarkan terlebih dahulu. Sony baru mengajukan permohonan pendaftaran atas bentuk faceplate tersebut pada tanggal 6 November 2020, hanya beberapa hari sebelum launching PS5. Permohonan itu pun baru diterima tanggal 5 Oktober  lalu. Mungkin ini lah yang menjadi alasan mengapa Sony baru bertindak setelah penjualan Darkplate sudah berjalan hampir setahun.

Dbrand, bukan sekedar berani di dunia maya, dengan tegas mereka juga langsung memberi tanggapan balik atas gugatan Sony. Mereka menyadari satu kelalaian dari kuasa hukum Sony, yakni mengenai tidak disebutkannya secara spesifik paten apa yang menurut Sony telah dilanggar oleh Dbrand. Dalam tanggapan yang di post di situs Reddit.com, Dbrand selaku perusahaan berbasis di Kanada, menguraikan regulasi di Kanada yang mengatur bahwa pihak yang menggugat adanya pelanggaran harus mendemonstrasikan tindakan apa yang merupakan pelanggaran serta secara spesifik paten apa yang dilanggar. Merasa telah mematahkan gugatan Sony mengenai peniruan desain, Dbrand pun merubah narasi perdebatan menjadi apakah diperbolehkan untuk menjual komponen pengganti untuk perangkat yang sudah dimiliki oleh konsumen. Pada postingan yang sama, Dbrand menyamakan diri mereka dengan toko yang memproduksi produk aftermarket automotif. Mereka membenarkan praktik mereka dengan menggunakan analogi  pengguna mobil yang berhak untuk memilih onderdil apa yang digunakan untuk memodifikasi, memperbaiki atau mereparasi mobil mereka.

Pada dasarnya argumen yang digunakan Dbrand tidak salah. Memang tidak ada regulasi yang melarang penjualan produk aftermarket atau onderdil, tetapi adanya patent design (istilah AS untuk desain industri) yang mengharuskan Darkplate untuk memiliki elemen pembeda yang substansial dengan produk orisinil oleh Sony. Kemiripan dua produk tersebut mungkin menjadi salah satu faktor mengapa Dbrand sempat menarik Darkplate dari pasar, namun ini bukan berarti Dbrand menyerah begitu saja.

Minggu lalu, Dbrand mengeluarkan versi terbaru dari produk mereka yang dinamakan “Darkplate 2.0”. Produk ini didesain khusus untuk menyoroti perbedaannya dengan perangkat orisinil Sony. Darkplate 2.0 memiliki tepi yang bentuknya membulat serta lubang ventilasi baru, sehingga memberikannya rupa yang  berbeda dengan desain sebelumnya. Sesuai dengan ciri khas Dbrand, pemasaran Darkplate 2.0 juga dilengkapi dengan slogan angkuh, “Checkmate, Lawyers!”

Sony sejauh ini belum memberikan tanggapan mengenai desain Darkplate 2.0. Namun Richard Hoeg, seorang pengacara yang juga merupakan host dari podcast “Virtual Legality” berpendapat bahwa kini desain produk Dbrand sudah cukup unik. Beliau sebelumnya menyatakan bahwa menurutnya versi pertama dari Darkplate terlalu sama dengan plate PS5 asli.

SANGAT LEGAL!

Selain bentuk faceplate, Sony juga mempermasalahkan dua hal lain yakni corak yang digunakan serta penggunaan nama “PlayStation” dalam pemasaran darkplate. Soal corak, Dbrand menggunakan corak dengan serangkaian gambar pyramid, symbol radiasi, tengkorak, dan kepala robot yang menurut Sony sangat serupa dengan bentuk-bentuk tombol PS, sehingga berpotensi untuk membuat publik berpikir bahwa Darkplate adalah produk resmi dari Sony. Dbrand tampaknya mengakui kemiripan corak tersebut hingga mereka tidak menggunakannya untuk Darkplate 2. Selebihnya, soal penggunaan merek “PS”, Sony  berpendapat bahwa Dbrand yang  menjelaskan produknya sebagai “Sony PS5 Skins & Wraps,” “PS5 Faceplates,” “PlayStation 5 Skin,” dan “Sony PS4 Pro Skins & Wraps” juga dapat membingungkan konsumen. 

Pengacara dan pengamat industri game, Mark Methenis, menyuarakan pendapatnya soal ini dalam interview dengan arstechnica.com. Beliau percaya bahwa tidak ada tindakan pelanggaran mengenai penggunaan deskripsi oleh Dbrand karena dalam pemasaran suatu produk boleh menyebutkan nama produk lain tanpa izin atau lisensi apabila identifikasi produk lain itu diperlukan agar konsumen dapat mengetahui fungsi produk yang dijual. Methenis memberikan contoh yakni casing dari produsen selain Apple yang dibuat khusus untuk iPhone 13 atau bumper cadangan untuk mobil Ford. Keduanya tentu perlu menyebutkan merek agar konsumen dapat mengetahui kompatibilitas barang-barang tersebut. 

Nah, jika Partners membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai Paten, Desain Industri atau Kekayaan Intelektual lainnya, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui pesan di kolom komenter, media sosial, atau email ke marketing@ambadar.co.id.

No comments yet.

Be the first to comment by using the form below.

Add comment