China Dominasi Paten 6G

Jaringan 5G memang sudah santer terdengar sejak beberapa tahun lalu, meskipun penggunaannya belum merata di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Akan tetapi, kehadiran 5G yang masih terhitung seumur jagung ini tidak menjadi penghalang bagi para inventor untuk mengembangkan koneksi penerusnya, yakni 6G yang kecepatannya diharapkan 10 kali lipat dari 5G. 

Sejumlah perusahaan teknologi besar bahkan membuat sebuah aliansi bernama Next G Alliance yang bertujuan memajukan apa yang disebut kepemimpinan global Amerika Utara sebagai “Jalur Evolusi 5G dan Pengembangan Awal 6G”. Aliansi ini juga memiliki tujuan menciptakan pengembangan roadmap “Next G” dengan melakukan pengembangan terhadap generasi “G” lanjutan yakni 6G. Banyak perusahaan teknologi raksasa yang menjadi anggota aliansi ini, mulai dari Microsoft, Facebook, Nokia, Intel, Qualcomm, IBM, hingga Google.

Akan tetapi, aliansi tersebut tidak memasukan raksasa teknologi asal Cina, Huawei. Laporan tahun lalu menunjukkan Huawei sudah mulai melakukan penelitian 6G sendiri. Meskipun demikian, melansir dari artikel Nikkei Asia, China justru mendominasi pendaftaran Paten atas teknologi 6G. 

Nikkei Asia yang bekerja sama dengan perusahaan riset Cyber Creative Institute yang berbasis di Tokyo melakukan survei terkait pendaftaran Paten untuk teknologi 6G dan ditemukan sekitar 20.000 aplikasi Paten untuk sembilan teknologi inti 6G, termasuk komunikasi, teknologi kuantum, stasiun pangkalan, dan kecerdasan buatan.

Berdasarkan survei tersebut didapati bahwa negara China memiliki pendaftaran paten untuk 6G terbanyak, yakni sebesar  40,3% dari pengajuan paten 6G, diikuti oleh AS dengan 35,2%. Jepang menempati peringkat ketiga dengan 9,9%, diikuti oleh Eropa dengan 8,9% dan Korea Selatan dengan 4,2%. 

Selain itu China juga telah meluncurkan satelit 6G pertama di dunia ke luar angkasa pada bulan November 2020 lalu. Satelit tersebut mengangkasa bersama 12 satelit lainnya menggunakan roket Long March 6, yang meluncur dari Taiyuan Satellite Launch Center. 

Takafumi Saito, direktur di Cyber ​​Creative Institute menyatakan bahwa paten atas 6G asal China ini tidak hanya dimiliki oleh perusahaan besar seperti Huawei, tapi banyak juga perusahaan lain, yang menunjukkan bahwa perkembangan teknologi China terus meningkat.

Sedangkan Amerika Serikat yang menduduki peringkat kedua juga memiliki banyak perusahaan telepon pintar dan internet, memiliki kecakapan teknis tingkat tinggi di terminal dan perangkat lunak. Qualcomm dan Intel telah memperoleh banyak Paten untuk chip yang digunakan di smartphone dan peralatan IT lainnya.

Di Amerika Serikat, aliansi Next G Alliance juga telah didukung pemerintah federal yang memberikan izin akses gratis menguji gelombang radio. Ketika 6G diluncurkan, pola komunikasi sudah mungkin terintegrasi dengan teknologi AI, virtual reality, dan augmented reality..

AS dan China bukan satu-satunya yang bersaing untuk mendapatkan supremasi 6G. Jepang berada peringkat ketiga, melalui perusahaan Nippon Telegraph & Telephone yang memiliki banyak Paten yang berhubungan dengan komunikasi optik dan jaringan infrastruktur seluler di daerah perkotaan, termasuk teknologi untuk mengurangi kemacetan dan penundaan data.

Di Eropa, produsen peralatan telekomunikasi asal Swedia, Ericsson dan Universitas Oulu di Finlandia telah menerbitkan “kertas putih” 6G, dan Uni Eropa juga telah membuat standarisasi 6G, dengan membentuk kelompok penelitian bersama Institut Standar Telekomunikasi Eropa.

Selanjutnya di Korea Selatan, Samsung Electronics dan LG Electronics telah mendirikan pusat pengembangan 6G yang disubsidi oleh pemerintahnya dalam upaya pengembangan jaringan 6G. Meskipun ada di peringkat kelima, Korea Selatan malah sudah tancap gas dengan rencana komersialisasi jaringan 6G pada tahun 2028. 

2028 memang tampak masih lama, tapi berkaca pada pengembangan jaringan seluler sebelumnya yang butuh setidaknya 10 tahun, maka target Korea Selatan ini bisa dibilang cukup cepat, dan bisa jadi yang tercepat di dunia dalam menghadirkan 6G secara komersial pada masyarakat.

Bagaimana dengan Indonesia? Berikan pendapat Partners di kolom komentar ya. Jika Partners membutuhkan informasi lain terkait Paten, proses pendaftaran atau Kekayaan Intelektual lainnya, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui marketing@ambadar.co.id.


Sumber:

No comments yet.

Be the first to comment by using the form below.

Add comment